
Dok: https://www.ipb.ac.id/
Dunia hortikultura Indonesia kembali mencatatkan terobosan baru setelah peneliti IPB University berhasil merakit empat varietas cabai habanero lokal pertama di Indonesia. Inovasi ini menjadi perhatian karena tidak hanya menawarkan tingkat kepedasan yang sangat tinggi, tetapi juga dirancang agar mampu beradaptasi dengan iklim tropis Indonesia. Keempat varietas tersebut telah resmi terdaftar di Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan memperoleh Hak Pelindungan Varietas Tanaman (PVT).
Empat varietas yang dikembangkan adalah Tabia Sala 1, Margi 2, Tabia Sala Oranye, dan Tabia Sala Kuning. Menurut Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB University, Prof. Muhamad Syukur, varietas tersebut merupakan hasil penelitian yang dimulai sejak 2020. Selama enam tahun, tim peneliti melakukan berbagai tahapan pemuliaan tanaman untuk menghasilkan cabai habanero yang tidak hanya memiliki cita rasa pedas ekstrem, tetapi juga sesuai dengan kondisi lingkungan di Indonesia.
Salah satu keunggulan utama dari cabai habanero IPB terletak pada tingkat kepedasannya. Varietas Tabia Sala 1 IPB yang berwarna merah memiliki tingkat kepedasan mencapai 1 juta hingga 1,3 juta Scoville Heat Units (SHU). Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan cabai rawit yang umum dikonsumsi masyarakat Indonesia. Sementara itu, varietas Margi 2, Tabia Sala Oranye, dan Tabia Sala Kuning memiliki tingkat kepedasan berkisar antara 350 ribu hingga 500 ribu SHU, sehingga tetap masuk dalam kategori cabai dengan rasa pedas yang sangat kuat.
Selain tingkat kepedasan, aspek adaptasi menjadi nilai tambah dari inovasi ini. Selama ini, cabai habanero yang berasal dari luar negeri cenderung kurang mampu beradaptasi dengan kondisi iklim tropis Indonesia. Oleh karena itu, tim peneliti IPB merancang varietas yang lebih tahan terhadap suhu tropis sekaligus memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap serangan hama dan penyakit. Khususnya, penyakit keriting kuning yang sering menyebabkan penurunan hasil panen cabai. Keunggulan tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas petani sekaligus mengurangi risiko gagal panen.
Potensi ekonomi dari cabai habanero IPB juga dinilai sangat besar. Prof. Muhamad Syukur menjelaskan bahwa kebutuhan cabai dengan tingkat kepedasan tinggi terus meningkat, terutama untuk industri pengolahan makanan. Cabai yang sangat pedas memungkinkan penggunaan bahan baku dalam jumlah lebih sedikit tanpa mengurangi cita rasa produk. Bahkan, salah satu perusahaan pengolahan pangan di Bogor telah menyatakan minat untuk mengembangkan bubuk cabai berbahan habanero IPB sebagai produk komersial. Selain memenuhi kebutuhan pasar domestik, varietas ini juga memiliki peluang untuk diekspor ke Korea Selatan sebagai bahan baku hot pack, yaitu kantong penghangat tubuh yang banyak digunakan saat musim dingin.
Benih keempat varietas tersebut kini telah didiseminasikan melalui Benih Dramaga sehingga dapat diakses lebih luas oleh petani Indonesia. Dengan tersedianya benih unggul ini, diharapkan petani memiliki alternatif komoditas bernilai ekonomi tinggi yang mampu meningkatkan daya saing hortikultura nasional.

