
Pergerakan harga sayuran di berbagai daerah Indonesia masih menunjukkan fluktuasi akhir-akhir ini Sejumlah komoditas hortikultura seperti cabai, bawang merah, bawang putih, dan tomat mengalami perubahan harga yang dipengaruhi oleh kondisi pasokan, cuaca, serta distribusi dari sentra produksi ke pasar-pasar tradisional. Meski tidak terjadi lonjakan setinggi beberapa bulan sebelumnya, harga beberapa komoditas strategis masih menjadi perhatian pemerintah, pedagang, maupun masyarakat karena berpengaruh langsung terhadap pengeluaran rumah tangga. Berdasarkan data pemantauan harga pangan nasional, cabai rawit merah masih menjadi salah satu komoditas dengan harga tertinggi dibandingkan sayuran lainnya.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia pada akhir Juni 2026 menunjukkan bahwa harga bawang merah dan cabai mengalami pergerakan yang bervariasi antarwilayah. Di beberapa daerah, harga bawang merah berada pada kisaran Rp40.000 hingga Rp55.000 per kilogram, sementara cabai rawit merah sempat diperdagangkan di atas Rp75.000 per kilogram. Perbedaan harga tersebut dipengaruhi oleh biaya distribusi, kondisi panen, serta permintaan masyarakat di masing-masing daerah dan kemungkinan akan tetap bertahan hingga awal Juli.
Di Jakarta, sistem informasi harga pangan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga memperlihatkan bahwa harga sejumlah komoditas sayuran bergerak dinamis hampir setiap hari. Beberapa jenis sayuran mengalami kenaikan tipis, sedangkan komoditas lain justru turun karena pasokan mulai membaik dari sentra produksi di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kondisi ini menunjukkan bahwa distribusi hasil panen masih menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga di ibu kota.
Fenomena serupa juga terlihat di sejumlah daerah lain. Data harga pangan Kota Salatiga dan Kota Medan menunjukkan bahwa harga bawang merah berada di kisaran Rp35.000–Rp55.000 per kilogram, sedangkan cabai merah dan cabai rawit memiliki selisih harga yang cukup besar bergantung pada kondisi pasar lokal. Sementara itu, harga bawang putih relatif lebih stabil dibandingkan komoditas cabai karena pasokan impor dan stok domestik masih mencukupi kebutuhan pasar.
Pengamat pertanian menilai fluktuasi harga sayuran pada Juni 2026 masih tergolong wajar. Memasuki musim kemarau, beberapa daerah sentra hortikultura mulai mengalami penurunan produksi akibat berkurangnya ketersediaan air. Di sisi lain, wilayah yang baru memasuki masa panen justru mampu meningkatkan pasokan sehingga harga di daerah tersebut menjadi lebih stabil. Faktor cuaca yang tidak menentu juga memengaruhi kualitas hasil panen, terutama pada komoditas cabai dan tomat yang sensitif terhadap perubahan suhu dan curah hujan.
Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional terus melakukan pemantauan harga harian serta mendorong kelancaran distribusi pangan antardaerah untuk menjaga stabilitas pasar. Selain itu, pemanfaatan data digital melalui Panel Harga Pangan Nasional dan PIHPS Bank Indonesia menjadi acuan dalam memonitor perkembangan harga secara real time sehingga langkah intervensi dapat dilakukan lebih cepat apabila terjadi lonjakan harga yang signifikan. Upaya ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus memberikan kepastian pasar bagi petani hortikultura di berbagai daerah.

