
Banyak diketahui oleh masyarakat luar bahwa kekurangan zat besi masih menjadi salah satu penyebab utama anemia, sehingga pemenuhan asupan zat besi melalui pola makan bergizi seimbang perlu terus dilakukan. Selain sumber protein hewani, berbagai jenis sayuran juga dapat menjadi sumber zat besi yang membantu pembentukan hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.
Salah satu sayuran yang paling dikenal sebagai sumber zat besi adalah bayam. Dalam 100 gram bayam segar terkandung sekitar 2,7–3 mg zat besi. Selain zat besi, bayam juga kaya akan folat, vitamin A, vitamin C, dan magnesium. Folat berperan penting dalam pembentukan sel darah merah baru, sehingga kombinasi zat besi dan folat menjadikan bayam sebagai pilihan yang baik untuk mendukung kesehatan darah. Agar penyerapannya lebih optimal, bayam sebaiknya dikonsumsi bersama makanan yang mengandung vitamin C seperti tomat atau jeruk.
Daun kelor juga semakin banyak direkomendasikan sebagai sayuran bergizi tinggi. Daun kelor mengandung zat besi, vitamin C, vitamin A, protein, serta antioksidan yang cukup tinggi dibandingkan banyak sayuran hijau lainnya. Kandungan vitamin C alaminya turut membantu meningkatkan penyerapan zat besi dalam tubuh. Karena inilah daun kelor sering dimanfaatkan sebagai bahan pangan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi, terutama di daerah yang rentan mengalami kekurangan zat besi.
Sayuran berikutnya adalah kangkung. Meskipun kandungan zat besinya sedikit lebih rendah dibandingkan bayam, kangkung tetap menjadi sumber mineral yang baik karena juga mengandung vitamin A, vitamin C, dan berbagai senyawa antioksidan. Kangkung mudah ditemukan di Indonesia dan dapat diolah menjadi berbagai menu sederhana seperti tumis atau sayur bening, sehingga menjadi pilihan ekonomis untuk melengkapi kebutuhan zat besi harian keluarga.
Kale juga termasuk sayuran hijau yang mulai banyak dikonsumsi masyarakat. Selain mengandung zat besi, kale kaya vitamin K, vitamin C, folat, dan serat. Kandungan vitamin C yang tinggi membantu tubuh menyerap zat besi secara lebih mudah. Karena itu, kale sering direkomendasikan sebagai bagian dari menu sehat bagi masyarakat yang ingin meningkatkan kualitas asupan gizi sehari-hari.
Tidak hanya sayuran daun, brokoli juga berperan dalam menjaga kesehatan darah. Brokoli memang tidak memiliki kandungan zat besi setinggi bayam, tetapi kaya vitamin C yang sangat membantu meningkatkan penyerapan zat besi dari makanan lain. Selain itu, brokoli mengandung folat, serat, dan berbagai senyawa antioksidan yang mendukung fungsi sistem kekebalan tubuh sekaligus membantu proses pembentukan sel darah merah. Kombinasi brokoli dengan bayam atau kacang-kacangan dapat menjadi pilihan menu yang lebih bergizi.
Selain sayuran hijau, kelompok kacang-kacangan seperti buncis, kacang merah, dan kedelai juga merupakan sumber zat besi nabati yang baik. Kacang merah mengandung zat besi sekaligus protein nabati yang membantu pembentukan jaringan tubuh, sedangkan kedelai menjadi bahan baku berbagai produk seperti tempe dan tahu yang mudah dikonsumsi masyarakat Indonesia. Para ahli gizi menyarankan agar sumber zat besi nabati dikombinasikan dengan buah kaya vitamin C, sementara konsumsi teh atau kopi sebaiknya diberi jeda sekitar satu hingga dua jam setelah makan karena tanin di dalamnya dapat menghambat penyerapan zat besi.
Namun, para pakar mengingatkan bahwa tidak ada satu jenis sayuran yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan zat besi harian. Pola makan yang beragam, terdiri atas sayuran hijau, kacang-kacangan, buah kaya vitamin C, serta sumber protein hewani atau nabati, tetap menjadi cara terbaik untuk menjaga kadar hemoglobin tetap normal.

