
Memasuki pertengahan Juli 2026, sebagian besar wilayah Indonesia mulai merasakan musim kemarau yang semakin meluas. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi kemarau tahun ini berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan rata-rata normal akibat meningkatnya peluang fenomena El Nino. Kondisi tersebut mendorong petani untuk menyesuaikan pola tanam dengan memilih komoditas hortikultura yang lebih tahan terhadap keterbatasan air agar produktivitas tetap terjaga.
BMKG mengimbau pelaku sektor pertanian agar menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air dan memiliki umur panen relatif singkat. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi risiko gagal panen akibat berkurangnya curah hujan dan meningkatnya suhu udara selama musim kemarau. Berdasarkan pemutakhiran prediksi musim kemarau Juni 2026, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal dengan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah tanaman sayuran dinilai tetap prospektif untuk dibudidayakan. Salah satunya adalah kangkung, yang memiliki masa panen sekitar 25–30 hari dan relatif mampu tumbuh baik selama kebutuhan air dasar tetap terpenuhi. Selain kangkung, bayam juga menjadi pilihan karena berumur pendek dan dapat dipanen dalam waktu sekitar 3-4 minggu. Kedua sayuran daun ini banyak diminati pasar sehingga masih memberikan peluang keuntungan bagi petani meskipun kondisi cuaca lebih kering.
Komoditas lain yang cocok ditanam pada musim kemarau adalah terong, okra, dan cabai. Terong dikenal memiliki sistem perakaran yang cukup kuat sehingga lebih toleran terhadap kondisi tanah yang mulai mengering. Okra juga semakin diminati karena mampu tumbuh pada suhu tinggi dan tidak membutuhkan penyiraman sesering tanaman daun. Sementara itu, budidaya cabai tetap dapat dilakukan selama petani menerapkan pengelolaan air yang baik, seperti penggunaan mulsa plastik untuk menjaga kelembapan tanah dan mengurangi penguapan air.
Selain memilih jenis tanaman yang tepat, para penyuluh pertanian juga mendorong penerapan teknik budidaya yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Penggunaan mulsa organik maupun plastik, penyiraman dengan sistem irigasi tetes, penambahan bahan organik pada tanah, hingga pemanfaatan embung atau penampungan air hujan menjadi strategi yang banyak direkomendasikan. Langkah tersebut tidak hanya membantu menghemat penggunaan air, tetapi juga menjaga kondisi tanah tetap lembap sehingga akar tanaman dapat berkembang lebih optimal selama musim kemarau.

