Jamu, Jahe, dan Empon-Empon Kian Diminati Akhir-Akhir Ini

Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap gaya hidup sehat, minuman tradisional berbahan empon-empon semakin banyak dikonsumsi sebagai bagian dari pola hidup sehari-hari. Tidak hanya diminati oleh masyarakat dalam negeri, produk herbal Indonesia juga mulai mendapat perhatian lebih luas karena memiliki potensi ekonomi yang besar di pasar global. 

Jahe menjadi salah satu bahan herbal yang paling populer di kalangan masyarakat. Tanaman ini dikenal luas karena memberikan sensasi hangat pada tubuh dan sering digunakan sebagai bahan dasar berbagai jenis jamu. Selain jahe, kunyit, temulawak, dan kencur juga menjadi komponen utama berbagai ramuan tradisional yang telah diwariskan turun-temurun. Kombinasi berbagai rempah tersebut dikenal sebagai empon-empon yang hingga kini masih dikonsumsi dari berbagai umur, dari anak kecil hingga orang dewasa.

Popularitas jamu pada 2026 turut didukung oleh berbagai upaya pengembangan industri herbal nasional. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada awal Juni 2026 meluncurkan Pekan Jamu 2026 untuk memperkenalkan kekayaan biodiversitas herbal Indonesia kepada masyarakat dan pasar internasional. Dalam kegiatan tersebut, BPOM menyebut Indonesia memiliki sekitar 75% keanekaragaman hayati herbal dunia yang menjadi modal besar untuk mengembangkan produk kesehatan berbasis bahan alam.

Kepala BPOM Taruna Ikrar menjelaskan bahwa nilai ekonomi industri jamu nasional saat ini mencapai sekitar Rp1,2 triliun per tahun. Angka tersebut dinilai masih dapat berkembang jauh lebih besar mengingat potensi pasar global produk herbal dan kesehatan diperkirakan mencapai sekitar Rp350 triliun setiap tahun. Menurutnya, tanaman herbal Indonesia seperti kunyit dan jahe memiliki nilai yang tidak kalah dibandingkan ginseng yang selama ini identik dengan negara-negara Asia Timur.

Di berbagai daerah, minuman jamu berbahan jahe dan empon-empon juga semakin mudah ditemukan. Banyak pelaku usaha mikro mulai menghadirkan produk jamu modern dalam bentuk siap minum, serbuk instan, hingga minuman kemasan yang lebih praktis. Inovasi tersebut membuat jamu lebih mudah diterima oleh generasi muda tanpa meninggalkan nilai tradisional yang terkandung di dalamnya. Selain itu, sejumlah penelitian terbaru juga terus dilakukan untuk mengkaji manfaat berbagai tanaman herbal Indonesia sebagai bahan pangan fungsional maupun pendukung kesehatan.

Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk berhati-hati dalam memilih produk herbal. BPOM pada Mei 2026 kembali menemukan puluhan produk obat herbal yang mengandung bahan kimia obat berbahaya dan tidak sesuai ketentuan. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya memilih produk herbal yang memiliki izin edar resmi serta berasal dari produsen terpercaya. Penggunaan bahan kimia obat secara ilegal dalam produk yang diklaim sebagai jamu dapat menimbulkan risiko kesehatan serius, termasuk gangguan hati, ginjal, hingga jantung.

Para pelaku industri meyakini bahwa masa depan jamu Indonesia masih sangat cerah. Dukungan penelitian, inovasi produk, serta meningkatnya minat masyarakat terhadap bahan alami menjadi faktor penting yang mendorong pertumbuhan sektor ini. Jahe, kunyit, temulawak, dan berbagai tanaman herbal lainnya tidak hanya menjadi bagian dari budaya Nusantara, tetapi juga berpotensi menjadi komoditas unggulan yang mampu bersaing di pasar global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Kubis Ungu vs Kubis Hijau, Mana yang Lebih Bergizi?

Sun Aug 9 , 2026
Baik kubis ungu maupun kubis hijau berasal dari spesies yang sama, yaitu Brassica oleracea, tetapi memiliki perbedaan warna, kandungan nutrisi, dan manfaat kesehatan yang cukup menarik untuk dibandingkan. Meski sama-sama kaya serat, vitamin, dan mineral, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa masing-masing memiliki keunggulan tersendiri yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Kubis […]

You May Like