Ranking Level Pedas Cabai Dari Ringan hingga Ekstrem

Tren makanan pedas di Indonesia terus meningkat seiring dengan semakin banyaknya inovasi kuliner yang menawarkan sensasi pedas berlevel. Di balik tren tersebut, berbagai jenis cabai lokal menjadi tokoh utama karena memiliki tingkat kepedasan yang beragam, bahkan beberapa di antaranya masuk kategori ekstrem. Tingkat kepedasan cabai sendiri diukur menggunakan skala Scoville Heat Units (SHU) yang menunjukkan kadar capsaicin sebagai senyawa utama penyebab rasa pedas. Semakin tinggi angka SHU, semakin pedas cabai tersebut.

Di Indonesia, cabai dapat diklasifikasikan dalam beberapa tingkatan kepedasan. Pada level paling ringan, terdapat cabai merah besar yang umum digunakan dalam masakan sehari-hari. Cabai ini memiliki tingkat kepedasan sekitar 30.000–50.000 SHU dan lebih sering dimanfaatkan untuk memberikan warna serta rasa dibandingkan sensasi pedas yang kuat.

Selanjutnya, cabai keriting dan cabai rawit menjadi jenis yang paling sering digunakan masyarakat. Cabai rawit khususnya memiliki tingkat kepedasan yang cukup tinggi, berkisar antara 50.000 hingga 100.000 SHU. Meski berukuran kecil, cabai ini dikenal memiliki rasa pedas yang tajam dan menjadi bahan utama berbagai sambal khas Nusantara. Popularitasnya membuat cabai rawit sering disebut sebagai “standar pedas” dalam kuliner Indonesia.

Memasuki level pedas tinggi, terdapat cabai gendot yang banyak dibudidayakan di daerah Dieng, Jawa Tengah. Cabai ini memiliki bentuk yang lebih gemuk dan tingkat kepedasan mencapai 100.000 hingga 350.000 SHU. Kandungan capsaicin yang tinggi membuat cabai gendot sering digunakan dalam jumlah sedikit karena sensasi pedasnya yang cukup kuat dibandingkan cabai biasa.

Di atasnya, terdapat cabai khas Indonesia yang masuk kategori super pedas, salah satunya adalah cabai katokkon dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Cabai ini memiliki tingkat kepedasan sekitar 400.000 hingga 600.000 SHU, bahkan dalam beberapa sumber disebut bisa mencapai lebih dari 600.000 SHU. Selain pedas, cabai ini juga memiliki aroma khas yang membuatnya banyak digunakan dalam masakan tradisional Sulawesi.

Pada puncak ranking, cabai hiyung menjadi salah satu cabai terpedas di Indonesia. Cabai yang berasal dari Kalimantan Selatan ini memiliki tingkat kepedasan yang sangat tinggi, mencapai sekitar 1.417.500 SHU atau sekitar 17 kali lebih pedas dibandingkan cabai rawit biasa. Dengan tingkat kepedasan tersebut, cabai hiyung bahkan disebut-sebut sebagai salah satu cabai terpedas di dunia dan menjadi kebanggaan komoditas lokal Indonesia.

Selain itu, terdapat juga cabai domba yang dikenal luas di Jawa Barat dengan tingkat kepedasan sekitar 100.000 SHU. Meski tidak setinggi cabai katokkon atau hiyung, cabai ini tetap memiliki sensasi pedas yang kuat dan sering digunakan dalam sambal khas Sunda. Keberagaman jenis cabai ini menunjukkan kekayaan hayati Indonesia yang sangat luas, sekaligus mencerminkan budaya kuliner masyarakat yang lekat dengan rasa pedas.

Secara umum, ranking tingkat kepedasan cabai di Indonesia dapat disusun mulai dari cabai merah besar (ringan), cabai rawit (sedang), cabai gendot dan domba (pedas tinggi), cabai katokkon (sangat pedas), hingga cabai hiyung sebagai level ekstrem. Variasi ini memberikan banyak pilihan bagi masyarakat sesuai dengan toleransi rasa masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Peran Media Sosial Pada Penemuan 3 Spesies Baru Tanaman Ini

Thu May 21 , 2026
Penemuan tiga spesies baru tanaman di Indonesia menjadi sorotan setelah para peneliti mengungkap bahwa objek penelitian tersebut justru berasal dari peredaran tanaman hias di kalangan pedagang dan kolektor. Temuan ini menunjukkan bahwa perdagangan tanaman hias, baik secara langsung maupun melalui media sosial, dapat menjadi pintu masuk penting dalam mengidentifikasi keanekaragaman […]

You May Like