
Memasuki pertengahan tahun, sejumlah sentra produksi mangga di Indonesia mulai memasuki musim panen. Daerah seperti Indramayu, Majalengka, Subang, Cirebon, Probolinggo, Situbondo, hingga Tuban mulai memanen berbagai varietas unggulan, mulai dari Gedong Gincu, Cengkir, Arumanis, Manalagi, hingga Gadung. Kondisi ini disambut positif oleh petani dan pelaku usaha hortikultura karena permintaan pasar diperkirakan meningkat seiring melimpahnya pasokan buah lokal berkualitas.
Kabupaten Subang, Indramayu, dan Majalengka telah memasuki masa panen mangga lebih awal. Setelah panen di tiga daerah tersebut mulai berkurang, giliran sentra produksi di wilayah timur Jawa, seperti Probolinggo, Pasuruan, Situbondo, dan Banyuwangi yang diperkirakan menjadi pemasok utama mangga nasional. Pergeseran musim panen ini dinilai menguntungkan karena mampu menjaga ketersediaan buah di pasar dalam waktu yang lebih panjang sehingga pasokan tidak terkonsentrasi pada satu wilayah saja.
Musim kemarau yang mulai berlangsung sejak pertengahan tahun juga memberikan kondisi yang relatif ideal bagi perkembangan buah mangga. Tanaman mangga dikenal membutuhkan intensitas sinar matahari tinggi selama proses pembentukan dan pematangan buah. Curah hujan yang lebih rendah membantu mengurangi risiko serangan jamur dan pembusukan, sehingga kualitas buah yang dipanen cenderung lebih baik. Kondisi inilah yang membuat musim kemarau sering disebut sebagai musim terbaik bagi produksi mangga di Indonesia.
Melimpahnya hasil panen turut memberikan dampak positif terhadap aktivitas perdagangan. Para pengepul mulai meningkatkan kapasitas pembelian untuk memenuhi permintaan dari pasar tradisional, supermarket, hingga pengiriman antardaerah. Di sejumlah sentra produksi, varietas premium seperti Gedong Gincu dan Arumanis masih menjadi favorit konsumen karena memiliki cita rasa manis, aroma khas, dan daya simpan yang cukup baik. Para petani berharap stabilitas harga tetap terjaga sehingga keuntungan yang diperoleh mampu menutupi biaya produksi yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Di sisi lain, para ahli hortikultura mengingatkan pentingnya penanganan pascapanen agar kualitas mangga tetap terjaga hingga sampai ke tangan konsumen. Penanganan yang baik dimulai sejak proses pemanenan pada tingkat kematangan yang tepat, penggunaan alat panen yang sesuai, sortasi berdasarkan ukuran dan kualitas, hingga pengemasan menggunakan wadah yang mampu melindungi buah selama distribusi. Penelitian mengenai penanganan pascapanen mangga di Kabupaten Cirebon menunjukkan bahwa tahapan tersebut sangat menentukan daya simpan dan nilai jual buah, terutama untuk pasar modern maupun ekspor.
Kementerian Pertanian sebelumnya juga menjelaskan bahwa Indonesia memiliki kalender musim buah yang berbeda-beda sesuai karakteristik wilayah. Untuk mangga, periode Juli hingga September merupakan salah satu musim panen utama sehingga masyarakat dapat memperoleh buah dalam jumlah melimpah dengan kualitas terbaik. Selain memenuhi kebutuhan domestik, momentum ini juga menjadi peluang bagi pelaku usaha untuk memperluas pemasaran produk olahan mangga maupun meningkatkan ekspor ke berbagai negara tujuan.

