
Penelitian terbaru kembali menyoroti potensi luar biasa tanaman kelor (Moringa oleifera) dalam bidang lingkungan, khususnya melalui bijinya yang mampu menyaring mikroplastik dari air. Temuan ini menjadi perhatian publik karena menawarkan solusi alami, murah, dan ramah lingkungan untuk mengatasi salah satu masalah pencemaran terbesar abad ini, yaitu mikroplastik yang kini telah ditemukan di sungai, air minum, hingga rantai makanan manusia.
Studi yang dipublikasikan oleh peneliti dan dilaporkan pada Mei 2026 menunjukkan bahwa ekstrak biji kelor mampu mengikat dan mengendapkan partikel mikroplastik dalam air hingga mencapai efisiensi sekitar 98 persen pada kondisi uji laboratorium. Proses ini terjadi karena protein aktif dalam biji kelor bekerja sebagai koagulan alami yang menggumpalkan partikel kecil, termasuk mikroplastik, sehingga lebih mudah dipisahkan dari air.
Fenomena ini bukanlah hal yang sepenuhnya baru dalam dunia penelitian. Sebelumnya, biji kelor sudah lama dikenal sebagai agen penjernih air tradisional di beberapa negara tropis. Namun, temuan terbaru ini memperluas fungsinya, dari sekadar menjernihkan air kotor menjadi teknologi potensial untuk mengurangi kontaminasi mikroplastik yang berukuran sangat kecil, bahkan tidak kasat mata.
Para peneliti menjelaskan bahwa kemampuan biji kelor ini berasal dari kandungan protein kationik yang mampu menarik partikel bermuatan negatif di dalam air. Mikroplastik yang umumnya berasal dari degradasi sampah plastik seperti botol, kantong plastik, dan serat sintetis, dapat tersuspensi lama di air dan sulit dihilangkan dengan metode filtrasi biasa. Dengan bantuan ekstrak biji kelor, partikel-partikel tersebut dapat bergabung menjadi gumpalan besar (flok) yang kemudian mengendap di dasar wadah air.
Temuan ini menjadi semakin relevan karena tingkat pencemaran mikroplastik di perairan Indonesia dan dunia terus meningkat. Berbagai studi sebelumnya menunjukkan bahwa mikroplastik kini telah terdeteksi di sungai besar, air hujan, bahkan produk makanan dan minuman. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak jangka panjang bagi kesehatan manusia dan ekosistem perairan.
Selain efektif, penggunaan biji kelor juga dinilai lebih aman dibandingkan koagulan kimia yang selama ini digunakan dalam instalasi pengolahan air. Koagulan kimia berpotensi meninggalkan residu berbahaya, sementara kelor berasal dari bahan alami yang mudah terurai dan tersedia luas di daerah tropis seperti Indonesia. Hal ini membuka peluang besar bagi penerapan teknologi sederhana berbasis sumber daya lokal untuk pengolahan air bersih di pedesaan maupun daerah dengan akses terbatas terhadap teknologi modern.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa penelitian ini masih perlu dikembangkan lebih lanjut sebelum diterapkan secara luas. Tantangan utama terletak pada standarisasi proses, efektivitas di skala besar, serta integrasi dengan sistem pengolahan air yang sudah ada. Selain itu, aspek keamanan konsumsi air hasil filtrasi juga harus diuji secara ketat sebelum digunakan oleh masyarakat umum.

