
Memasuki bulan Maret 2026, harga sayuran di sejumlah pasar tradisional Indonesia menunjukkan kenaikan harga yang cukup signifikan. Beberapa jenis sayuran tercatat mengalami kenaikan yang cukup terasa, sehingga menjadi penyebab beberapa pedagang mengeluh karena merasa begitu mahalnya harga membuat pembeli pun mengurungkan niatnya.
Namun, ada juga pasar yang tetap relatif stabil seperti contohnya di Yogyakarta. Harga bahan pokok pada awal Ramadan 2026 menunjukkan bahwa harga sayuran tidak menunjukkan kenaikan yang signifikan secara umum. Namun, harga cabai rawit menembus Rp 100.0000 dan ini cukup menjadi sorotan utama karena kenaikannya yang signifikan dibandingkan hari-hari biasa.
Hal serupa juga terjadi di Pasar Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. Di sana harga berbagai sayuran melonjak hingga hampir 100% dibandingkan harga normal. Beberapa sayuran yang mengalami kenaikan tajam termasuk cabai domb yang semula berkisaran Rp40.000–Rp50.000 per kilogram kini mencapai sekitar Rp70.000 per kilogram, serta jamur yang melonjak dari sekitar Rp14.000 menjadi Rp32.000 per kilogram.
Meski demikian, data terbaru dari Badan Pangan Nasional menunjukkan bahwa secara nasional, tren harga cabai rawit merah mulai menunjukkan penurunan dibandingkan pekan sebelumnya. Pada 1 Maret 2026, harga cabai rawit tercatat turun dari sekitar Rp77.645 per kilogram menjadi Rp70.953 per kilogram. Penurunan ini dianggap sebagai hasil dari upaya koordinasi pengawasan pasar dan distribusi pangan oleh instansi terkait.
Perubahan harga sayuran ini juga berdampak pada inflasi kelompok pangan Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), sejumlah sayuran seperti tomat dan cabai merah menjadi salah satu penyumbang utama kenaikan inflasi makanan di Februari 2026. Hal ini terjadi bersamaan dengan kenaikan harga komoditas lain seperti daging ayam dan ikan segar.
Para pedagang di berbagai daerah menyebutkan bahwa kondisi cuaca, terutama curah hujan yang tidak menentu dan keterbatasan pasokan dari petani, menjadi faktor utama yang memengaruhi pasokan sayuran ke pasar. Faktor ini turut memengaruhi kestabilan harga dan ketersediaan sayuran bagi konsumen di daerah. Selain itu, permintaan yang meningkat saat memasuki bulan Ramadan juga turut memicu lonjakan harga tertentu dalam jangka pendek.
Meski demikian, upaya pemerintah melalui pengawasan distribusi dan koordinasi sektor pangan diharapkan dapat membantu menjaga pasokan tetap lancar dan menahan lonjakan harga komoditas sayuran yang berlebihan. Program stabilisasi harga pangan juga ditekankan untuk memastikan kebutuhan pokok, termasuk sayur-mayur untuk tetap dapat dijangkau oleh masyarakat luas sepanjang bulan Maret 2026.
